Bersambung

My Little Cave
3 min readOct 25, 2023

--

Belajar merasa aman ternyata tugas yang tidak mudah, ya. Ini sebuah kecakapan yang hanya bisa dikuasai melalui perjalanan yang tidak terasa lembut-lembutnya. Tapi lucunya penanda aku mulai menguasai kecakapan ini sama sekali berbeda dengan yang pernah kubayangkan dulu sekali.

Photo by Travis Grossen on Unsplash

Dulu aku sulit memahami ketika diberitahu bahwa perasaan yang kualami suatu hari akan terasa seperti alarm atau notifikasi saja, tidak lebih tidak kurang. Bukan seperti ancaman yang terus menerus ingin kuhindari atau kuhilangkan. “Hah? Apa bisa?” Tanyaku di kepalaku sendiri berkali-kali ketika mendengar itu.

“Apa mungkin? Terdengar sangat tidak masuk akal. Ada-ada saja mereka ini”. Dan mereka yang kusebut di sini adalah orang-orang yang belasan tahun mendalami ilmu untuk membantu orang-orang sepertiku. Dan aku menyangsikannya. Sepertinya lebih rasional jika dibilang aku yang mulai terdengar mengada-ada.

Kukira jika suatu hari aku kembali punya kemampuan untuk merasa aman, aku akan tidak bersedih lagi, aku akan tidak punya amarah lagi, atau aku tidak ingin menghilang lagi. Tapi aku salah. Aku benar-benar salah. Aku tetap manusia yang sama, yang sama kukuhnya yang sama rapuhnya, yang sama kerasnya yang sama lembutnya, yang sama hati-hatinya yang sama cerobohnya.

Satu-satunya yang berubah adalah kemampuanku untuk bergembira sekaligus memperbolehkan kesedihan, untuk mengizinkan kebencian hadir bersama kepedulian, untuk harapan hadir bergandeng dengan keinginan berputusasa, untuk menerima bahwa kesalahan boleh hadir bersama keinginan memaafkan yang kadang terlalu jauh untuk direngkuh.

Leher dan punggungku masih saja mendadak kaku ketika berpapasan dengan orang-orang tertentu dalam hidupku. Nafasku masih kadang tiba-tiba mendangkal dalam situasi-situasi yang terasosiasi dengan memori-memori tertentu. Tapi aku sudah tidak lagi berpura-pura. Aku tidak lagi berlarian ke sana kemari mencari-cari penawar atau bergegas mendatangi hal-hal yang kukira bisa jadi tempat bersandar.

Dulu seseorang pernah menasihatiku untuk melawan. Ya, melawan diriku sendiri dan semestanya yang sudah sempit ini. Dulu aku menangis menjadi-jadi dinasihati seperti ini. Jika kupikir-pikir lagi, dulu aku bersedih begitu besarnya karena aku tidak tahu sama sekali bagaimana cara melawan kecuali dengan menghilang. Apa pilihanku, apa opsi yang kupunyai. Semua orang terasa seperti meneriakiku untuk melawan, tapi tidak ada yang memberitahu bagaimana melakukannya tanpa menyakiti keberadaanku sendiri.

Perlahan-lahan aku belajar bahwa bertahan juga sebuah bentuk perlawanan. Di dunia yang sedemikian menyudutkan, yang mengecilkan, dan menyempitkan, bertahan saja adalah sebuah bentuk keras kepala yang amat mulia.

Bukankah tidak adil, jika kamu, yang tidak menyebabkan ini semua, yang tidak mengawali semua yang sedih-sedih ini, harus jadi yang kalah menyerah begitu saja?

Berakhir sia-sia nampak seperti masa depan yang menggiurkan kadang, tapi bukankah itu terdengar lebih menyedihkan lagi? Kamu yang susah payah mengupayakan hidup hari demi hari, malah jadi yang memilih mengemban ketragisan yang tidak juga membawamu ke mana-mana? Kesempatan masuk surgaku yang sudah kecil sekali akan memandangku dengan sinis dan sebal jika aku asal bertingkah.

Berbicara tentangmu, kamu sudah berjalan satu tahun, mungkin dua tahun, mungkin empat tahun, mungkin lima tahun, mungkin lebih. Bagaimana jika kita biarkan ini jadi cerita bersambung alih-alih jadi cerita yang tamat tiba-tiba dan mengesalkan sekali itu? Aku harap kita masih berjumpa lagi empat, lima, sepuluh, dua puluh, lima puluh tahun lagi, ya.

Bertahanlah dengan keras kepala. Sangat keras kepala.

Bersambung.

--

--