Boleh Hari Ini Aku Memuji Kesedihan?

My Little Cave
2 min readJul 17, 2023

Dua hari yang menyenangkan. Dua hari setelahnya tidak terlalu. Konon katanya memang begitu tabiat rasa gembira. Iya, dia tidak pernah mampir lama-lama; keasyikan berlarian dan menari dan melompat ke sana kemari. Baru saja sebentar aku menyambut kedatangannya, sekarang ia sudah pergi lagi mungkin ke tujuan berikutnya.

Photo by Julia Raasch on Unsplash

Padahal baru saja kubuatkan teh untuknya. Aku harus melambai lagi, dan menikmati kedua cangkir teh hangat ini sendiri, sembari memandangi kegembiraan berlari menjauh lagi.

Aku yang dulu mungkin akan keberatan. Mungkin aku sudah mati-matian mengejar kegembiraan buat kembali. Meneriakinya karena sudah merasa melakukan segalanya agar kegembiraan tidak pergi. Tapi bukan seperti itu karakter perasaan satu itu. Kegembiraan tidak pernah bisa tahan menjadi sandera. Dia datang dan hilang sesuka hatinya. Setidaknya di dalam duniaku.

Kupandang-pandangi yang lebih sering menetap bersamaku adalah saudara kembarnya: kesedihan — yang dulu amat kubenci sekali. Benci adalah pilihan kata yang kuat. Ya, aku tahu itu. Tapi dulu aku memang begitu tidak menyukainya. Karena kesedihan membuatku merasakan semua perasaan terlalu mendalam. Mengalami semuanya dengan kadar kepekaan yang tidak aku inginkan.

Photo by Harmen Jelle van Mourik on Unsplash

Kadang aku berpikir dan mengingat-ingat, apakah aku sendiri yang mengundang kesedihan untuk menetap di bawah atap yang sama denganku?

Sejak kapan aku mengizinkannya menjadi kawan serumah — yang hampir tidak pernah keluar rumah? Jangan-jangan aku lupa bahwa aku pernah melakukannya.

Apapun alasannya, bagaimanapun cerita awalnya, kurasa-rasa dia setia juga. Meskipun yang dikerjakannya kebanyakan adalah duduk di pojokan, asyik sendiri dengan apapun yang sedang dikerjakannya. Meski seringkali tanpa berkata-kata, ternyata kesedihan adalah teman yang banyak berperan.

Kesedihan membantuku membedakan mana yang berharga bagiku, mana yang tidak. Kesedihan membantuku menjadi berani untuk minta bantuan. Kesedihan mengajakku menghargai penderitaan dan orang-orang yang harus melaluinya.

Kesedihan mencegahku dari berbuat hal yang mungkin akan kusesali. Kesedihan menahanku dari meninggalkan orang-orang yang berharga perannya dalam hidupku.

Kesedihan melindungiku dari terjebak dalam hubungan yang menyesakkan. Kesedihan membantuku menyimpan kenangan yang aku butuhkan.

Kesedihan mendorongku menemukan rasa nyaman. Kesedihan memaksaku menemukan ulang rasa aman.

Kesedihan, meski menjengkelkan, ternyata adalah sahabat yang bijak juga. Bagaimanapun, aku masih punya perasaan yang bercampur antara ingin memujinya sekaligus memarahinya. Tapi kurasa aku tidak akan mengusirnya. Kegembiraan memang menyenangkan, tapi ia tidak akan sanggup melakukan apa yang kesedihan bisa lakukan.

Aku memerlukan keduanya dan bukan salah satu saja.

--

--