Sehat-Sehat, Ya, Pintu Surga!

My Little Cave
3 min readNov 15, 2023

--

Ucapanmu terdengar seperti derai-derai doa. Yang lembut, takzim, dan takluk pada Tuhan dan takdir. Yang berpasrah tanpa ada sedikitpun niatan untuk menyerah. Yang melangkah satu-satu, satu-satu. Yang merunduk dari sujud ke sujud.

Photo by Brittani Burns on Unsplash

Ucapanmu terdengar seperti derai-derai doa. Yang memeluk dan merengkuhku dari manapun engkau berada. Yang menopang dalam sayang yang berbait-bait. “Semoga segala kebaikan mendatangimu dari segala penjuru”, ucapmu.

Ucapanmu terdengar seperti derai-derai doa yang menguatkan, yang menuntun, yang membimbingku. Yang memastikan aku selalu punya harapan lagi dan lagi dan selalu.

Ucapanmu terdengar seperti derai-derai doa yang tak selalu sepakat dengan nasib dan jalan hidup, tapi erat untaiannya tak habis-habis. Dari sujud ke sujud, dari tasyahud ke tasyahud, salam ke salam.

Ucapanmu terdengar seperti derai-derai doa yang tak kikis, tak habis, sekalipun kita sedang tidak searah jalan, meskipun kita sedang berjauh-jauhan.

Aku tidak tahu jika aku mampu menjadi seseorang yang membahagiakanmu, atau sebaliknya. Ucapanku sama sekali tidak terasa seperti derai-derai doa. Tindakanku tidak terlihat seperti helai-helai berkat.

Aku terlalu takut jika jika aku tidak dapat menjadi apa yang kau doakan dengan derai-derai ucapanmu itu. Bagaimana jika aku adalah kebalikan dari semua yang kau harapkan? Bagaimana jika… bukan aku yang dapat membuatmu bahagia.

Ucapanmu terdengar seperti derai-derai doa…

Yang kadang terbalas hening

Namun berbekas hingga berwindu-windu dan berindu-rindu.

Setiap ada kebahagiaan mendatangiku, aku menduga-duga doamu yang mana yang Tuhan sedang kabulkan. Cintamu yang mana yang Tuhan sedang kirimkan.

Kita sama-sama punya masa lalu yang tidak kita rindukan. Kita sama-sama punya kesalahan yang ingin kita lupakan. Kita punya ucapan-ucapan yang ingin kita tarik kembali masuk ke perut, ditelan, dan hilang.

Kita sama-sama rindu duduk saling merindukan, dan menerima, dan merayakan.

Terima kasih sudah selalu gagah mendatangiku untuk saling meminta maaf. Meminta maaf atas waktu-waktu ketika kita saling lupa untuk memahami. Meminta maaf atas empati yang kehilangan nyali. Meminta maaf untuk rasa sakit yang sengaja atau tak sengaja kita sepelekan.

Ucapanmu terdengar seperti derai-derai doa yang ingin kudengar selamanya. Aku bersyukur kita terus belajar bagaimana kembali bisa saling mendengar. Aku bersyukur kita menemukan banyak cinta di tempat-tempat yang belum pernah kita datangi sebelumnya.

Ucapanku memang tidak terdengar seperti derai-derai doa, tindakanku apalagi. Tapi semoga kau selalu dapat menemukan harapan di manapun berada. Semoga kau selalu dikelilingi hal-hal yang mendamaikan hati ke manapun pergi. Terima kasih sudah selalu berada di ujung perjalananku dari manapun aku kembali.

Ucapanku memang tidak terdengar seperti derai-derai doa, tindakanku apalagi. Tapi semoga kebaikan ada selalu bersamamu, dan bersama mereka yang kau kasihi. Di bumi dan di langit, semoga Tuhan senantiasa menaungi.

Kita punya petualangan yang sangat hebat. Semoga kita terus cukup sehat, cukup rehat, cukup kuat untuk menikmati lebih banyak lagi. Mari menepati janji untuk menyuapiku ikan yang kau sisihkan durinya.

Sehat-sehat, ya, pintu surga.

Hari Ayah Nasional 2023

--

--